Thursday, May 22, 2003

Gosowong, 22 Mei 2003
Kala rasa jengah
tak lagi singgah
kala rasa malu
sudah berlalu

kala mata hati telah tertutup
kala suara hati mati terkatup

benih benih dosa dijalin
tali pencekik mulai terpilin
adakah jalan kembali?

Thursday, February 20, 2003

dari seorang teman, 06/02/03
Perempuanku
 
jika pagi buta
baru kau bergegas menuju terminal
maka harum tubuhmu
dan mulus kulitmu
akan dinikmati banyak orang

berangkatlah malam ini
dan aku akan mengantarkanmu
kemana saja yang kau mau
seperti kunang
yang menjelma lebing api
memecah malam
menyetapaki sorga

kita adalah manusia dari diri sendiri,perempuanku
terkungkung oleh mimpi dan hasrat kalbu mereka
orangorang yang sibuk mencari katakata
seperti hamburan plastik bekas pembungkus permen karet
diluar tenda kanak

dan kita adalah api
yang pelanpelan menyusup
kedalam tenda kanak itu
lalu membakar diri
menjelma tontonan megah
mengiringi obrolan mereka di meja makan

maka bergegaslah!

berangkatlah malam ini,bersamaku
akan kuceritakan lagi
banyak hal
kepadamu
seperti bulan
yang tak usai usai mengerjap
membujukmu
untuk segera pulang

membangun mimpi
dari hasrat luka sendiri, perempuanku.
Gsw, 01/01/03
Dedaunan menguning
gugur dan kemudian busuk
jalanku mengabur
tidak pernah pasti, tidak pernah jelas lagi

desir angin
embun pagi
hangat mentari
seperti tidak nyata

hatiku membusuk perlahan
diracun rasa
tak lagi sedih, senang pun tiada

hembusan nafasmu
menyampaikan kata
tak lagi berarti
sentuhan jemarimu
tak lagi membawa getar

aku hanya ingin sendiri
semuanya tawar
tidak lagi punya rasa
tidak lagi punya arti
Bdg, 27-02-02
Kala sepi menyergap
kucari bayangmu di antara deru angin
daun-daun beterbangan dipermainkan badai
gemuruh di kepala tak sanggup mengalahkan
jeritan hati yang telah serak memanggil namamu

kala duka menyapa
tertatih kutelusuri jejakmu
berharap cemas kau tinggalkan sepotong tanda
untuk kugenggam
kujadikan penepis luka

kala bimbang merasuk
ingin kubungkam dialog hati
ingin ku memohon pikiran untuk tidak
berlompatan melemparkan kata demi kata
yang meletihkan jiwaku

rasa ini menggayuti hati
membuatku sulit melangkah
bahkah tertatihpun aku sudah tak sanggup
aku tinggal menjadi seonggok harapan
yang perlahan menipis dan pudar

Wednesday, February 19, 2003

love is a grammatical paradox
when i am in love i close my eyes,
i am blind.

but love is cruel,
it never gets satisfied.

to love i am an object (says Sartre)
a slave.
a masochist.
i can try not to be one.
i might be saved from the pain,
but i will lose the chance for pleasure...

to be loved i am a subject,
a master.
a sadist.
but a master is never a master.
a master needs the slave.
a master may very well be the slave of the slave...

Funny, how love plays the game...
when you are active, you're the object
when you are passive, you're the subject
love is a grammatical paradox....
13-02-03
rasa itu berguguran
satu satu ditepis angin dan berlalu
asa itu sudah mati
perlahan-lahan digerogoti rasa tak pasti

bara yang dulu menyala
menghangatkan hati
perlahan padam
menyisakan asap yang memedihkan mata
menyesakkan nafas

tak lagi ada getar
saat tangan kita bertemu
tidak juga hati bergelinjang
ketika bayangmu melintas

senyum dan tawa
sudah menjadi topeng abadi
perbincangan penuh makna kasih
berganti obrolan tanpa arti
menebalkan rasa jemu
mengentalkan rasa bosan

jangan berhenti disini
mari mulai menjalani hidup kita
simpang jalan mulai kentara
akhir yang sedari dulu kita sadari
dan sudah kita tunda sekian lama
akan datang..
nanti... besok.. atau sebentar lagi....
11-02-03
bening embun pagi...
basah di kaki penuh luka...
sudah lama kutelusuri jalan yang sama
dan kembali aku berdiri disini
memandang angkuh rupamu yang tidak berubah
didera rasa perih yang tak kunjung reda
dihimpit sesak yang tidak pernah hilang

ingin ku menyimpang
menapaki jalan lain
jerat itu masih disana... erat mengikat
dan rasa takut... membuatku jadi pengecut...

sudah lusuh warna hatiku
penuh luka busuk dan tambalan asal jadi
sudah mati rasaku
direjam cambuk kejam